Cabaran Dakwah dan Penghayatan Islam
Pengalaman Umat Islam Serantau
Di Abad ini, telah terjadi lonjakan perubahan dengan cara cepat, transparan, dan bumi terasa sempit seakan tak ada sekat (batas). Hubungan komunikasi, informasi, dan transportasi telah menjadikan satu sama lain menjadi dekat.
Kita, masyarakat Serumpun, amatlah bersyukur kepada Allah, atas rahmat yang besar dengan nilai-nilai tamadun budaya Melayu yang terikat kuat dengan penghayatan Islam, dan terbukti pada masa yang panjang dizaman silam menjadi salah satu puncak kebudayaan dunia.
Namun, tersebab kelengahan dan terpesona kepada budaya lain diluar kita, dan karena derasnya penetrasi budaya luar (asing), kita pun mengalami situasi seakan membakar obat nyamuk, lapis pertama berangsur punah menuju lingkaran tengah dan dalam.
Bila ini dibiarkan, rela ataupun tidak, akhirnya tinggal abu jua.
Tuntutan zaman terus bergulir, sebagai bagian dari “Sunnatullah”.
Apabila dimasa lampau, saudara Serumpun telah banyak belajar menuntut ilmu ketanah seberang, karena kuat dan samanya ikatan batin, namun dihari ini senyatanya mesti diakui, kami pula harus belajar banyak dari semenanjung.
Inilah satu kenyataan sejarah, yang memang sulit untuk di bantah.
Masih tersedia satu lapangan dimana kita bisa berkejaran bersama, ya’ni di medan dakwah Ilaa Allah.
Karena itu, sangatlah dihajatkan benar tampilnya penggerak dakwah dengan berbekal teoritikus yang tajam, dan effektif, qanaah dan istiqamah dibidangnya.
Disamping itu, yang dihajatkan benar dalam pembinaan umat adalah, “opsir lapangan” yang bersedia dan pandai berkecimpung di tengah tengah umat. Selain dari ilmuan atau sarjana berpengalaman, maka yang paling dihajatkan bukan mata mata yang “mahir membaca berjilid-jilid buku tetapi buta membaca masyarakat”.
Kemahiran membaca “kitab masyarakat” acap kali tidak dapat diperoleh dalam ruang kuliah dan perpustakaan semata. Karenanya pula, perlu meng-introdusir ketengah masyarakat, dalam upaya membawa umat untuk aktif bersama-sama dalam mengha¬dapi setiap persoalan.
Akhirnya, dengan usaha sedemikian itu, akan dapat dirasakan denyut nadi kehidupan umat, dan lambat laun akan berurat pada hati umat itu. “Makin pagi makin baik....”,
Jangan berhenti tangan mendayung, agar arus tidak membawa hanyut …, demikianlah diantara pesan Allahyarham Bapak Mohammad Natsir.
Tidaklah kecil kerja kita, dalam mengurus rakyat kecil yang nyata-nyata jumlahnya sangat besar berada di akar serabut (grass-root) masyarakat bangsa Serumpun. Kekuatan kita pula terletak didalam kekuatan mereka “innama tunsharuuna wa turzaquuna bi dhu’afaikum”.
Bila kita mengkaji berhitung-hitung bahwa kita bangsa Serumpun yang besar ini, besar pula jumlah penganut Islamnya. Kebanyakannya pula adalah dhu’afak yang larat melarat. Maka tentulah terbuka peluang menghelanya oleh orang lain yang berminat mengubah dan memindah-mindahkannya kepada keyakinan diluar Islam.
Memang sangat memilukan sekali bahwa rakyat kecil itu pula dimasa derasnya arus globalisasi ini senantiasa dijadikan sasaran empuk.
Karena ketiadaan juga rupanya mereka menjadi kafir. Karena ketiadaan pula mereka menjadi umpan dari satu perubahan berbalut westernisasi.
Karena ketiadaan ilmu, dan bekalan iman jua agaknya mereka menjadi rapuh, dan terhempas di lamun ombak pemurtadan.
Acap kali mereka tersasar, sesat jalan, hanya karena kurangnya pemahaman terhadap agama. Karena ketiadaan. Itulah penyebabnya.
Arus globalisasi yang bergerak deras itu telah menggeser pula pola hidup masyarakat dibidang ekonomi, perniagaan atau pertanian, perkebunan dan lain sebagainya.
Kehidupan sosial berteras kebersamaan bergeser menjadi individualis dan konsumeristis. Masing masing berjuang memelihara kepentingan sendiri-sendiri dan condong kepada melupakan nasib orang (negara negara) lain.
Persaingan bebas tanpa kawalan akan bergerak kepada “yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri”, dan yang kuat akan menelan yang lemah di antara mereka".
Cabaran dan tantangan di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik dan lemahnya penghayatan agama akan menyangkut setiap aspek kehidupan tak terelakkan.
Paling terasa tantangan tersebut di berapa medan dakwah dan daerah terpencil (i.e. Mentawai, Lunang Silaut dan Pasaman) adalah gerakan salibiyah dan bahaya pemurtadan.
Ditengah perkotaan berkembang pula cabaran pendangkalan keyakinan dan menipisnya pengamalan agama serta pula bertumbuhnya penyakit masyarakat (tuak, arak, judi, dadah, pergaulan bebas dikalangan kaula muda, narkoba, dan beberapa tindakan kriminal dan anarkis) mengarah kepada dekadensi moral.
Perlu diyakini bahwa “pengendali kemajuan sebenar adalah agama dan budaya umat (umatisasi)”. Selain itu semua, akan ditopang oleh budaya dan tamaddun yang dipakai oleh umat jua adanya.
Prediksi kedepan, diharapkan abad keduapuluh satu menjadi abad agama dan budaya. Ternyata kemajuan teknologi informasi (teknologi maklumat) yang pesat dan tidak diseiringkan dengan kawalan yang ketat telah menyisakan pula bermacam problema. Walau kecenderungan pemahaman bahwa tercerabutnya agama dari diri masyarakat (khususnya dibelahan dunia Barat) tidak banyak pengaruh pada kehidupan pribadi dan masyarakatnya.
Akan tetapi akan lainlah halnya bila tercerabutnya agama dari diri masyarakat Serumpun (Melayu, dan juga Minangkabau) akan berakibat besar kepada perubahan prilaku dan tatanan masyarakatnya. Hal tersebut disebabkan karena “adatnya bersendi syarak, syaraknya bersendi kitabullah” dan “syarak (=agama) mangato (=memerintahkan) maka adat mamakai (=melaksanakan)”.
Peranan dakwah membawa umat, melalui informasi dan aktifiti, kepada keadaan yang lebih baik. Kokoh dengan prinsip, qanaah dan istiqamah. Berkualitas, dengan iman dan hikmah. Ber-‘ilmu dan matang dengan visi dan misi.
Amar makruf nahyun ‘anil munkar dengan teguh dan professional. Research-oriented dengan berteraskan iman dan bertelekankan tongkat ilmu pengetahuan (knowledge based).
Peran dakwah sedemikian, Insya Allah akan mampu merajut khaira ummah yang niscaya akan diperhitungkan mendunia (global) karena pacak menghadapi kompleksitas abad keduapuluh satu, awal alaf baru.
Masa kedepan amatlah di tentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya dominan.
Pembentukan generasi penyumbang dalam pemikiran dan pembaharuan (inovator), tidak boleh di abaikan agar tidak terlahir generasi konsumptif (pengguna) yang akan menjadi benalu bagi bangsa dan negara.
Kelemahan mendasar ditemui pada melemahnya jati diri karena kurangnya komitmen kepada nilai-nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Kelemahan ini dipertajam oleh tindakan isolasi diri dan kurang menguasai politik, ekonomi, sosial budaya, lemahnya minat menuntut ilmu, yang menutup peluang untuk berperan serta dalam kesejagatan.
Pemantapan tamaddun, agama dan adat budaya didalam tatanan kehidupan menjadi landasan dasar pengkaderan re-generasi, dengan menanamkan kearifan dan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang akan menjadi milik generasi mendatang.
Konsekwensinya, kita memikul beban kewajiban memelihara dan menjaga warisan kepada generasi pengganti, secara lebih baik dan lebih sempurna. Agar supaya dapat berlangsung proses timbang terima kepemimpinan secara estafetta alamiah, antara pemimpin yang akan pergi dan yang akan menyambung, dalam suatu proses patah tumbuh hilang berganti.
Kesudahannya yang dapat mencetuskan api adalah batu api (pemantik api) juga.
Inilah kewajiban setiap kepala keluarga (pemimpin pergerakan) yang selalu teguh dan setia membina jamaah, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan secara aktif. Siap melakukan dan menerima perubahan dalam tindakan yang benar.
Segala tindakan dan perbuatan akan selalu disaksikan oleh Allah, Rasul dan semua orang beriman.
Pandangan yang berlaku bahwa semakin banyak pengetahuan, ilmu dan informasi, akan semakin besar kemampuan pengendalian yang semula ada telah pula menjadi kabur.
Kenyataan tersua, makin banyak informasi, semakin kecil kemungkinan pengendalian. Informasi memerlukan penerjemahan sesuai dengan keperluan dan tatanan masyarakat penggunanya.
Menjaga norma kehidupan masyarakat menjadi kerja utama yang tidak boleh dianggap remeh.
Tanpa itu semua kemajuan mustahil terkendali dan tidak lagi menjanjikan rahmat, tetapi sebaliknya petaka.
Kebebasan bisa menjadi ancaman bagi kemajuan itu sendiri. Bila kurang siap, di abad depan bisa menjadi abad penjajahan informasi yang berujung dengan imperialisme kapital. Diawali dengan penjajahan konsep-konsep.
Mulailah bangsa ini terjajah di negeri sendiri, tanpa perlu hadir sosok tubuh sipenjajah. Alangkah malangnya nasib badan.
Generasi serumpun mesti siap memerankan tanggung jawab sendiri dan bersama, menanamkan kebebasan terarah dengan memelihara dan meningkatkan daya saing, bersikap produktif, agar dapat membuahkan kreativitas beragam yang dinikmati bersama.
Keseriusan dakwah dan pelayan umat, sebisanya sanggup menawarkan alternatif keumatan, dalam menjawab masalah umat dikelilingnya.
Karenanya, perlu supply informasi secara local, nasional, dan regional yang amat berguna dalam menggerakkan umat agar mampu berpartisipasi pada setiap perubahan.
Kitapun sudah mesti berdakwah kepada setiap orang dan rumah tangga dengan kepedulian yang tinggi.
Sudah masanya kita harus mendatangi setiap rumah tangga dan keluarga dalam memberi ingat kembali kepada penghayatan Islam. Akan tetapi, tentulah tidak mungkin kita melawatnya setiap waktu.
Maka upaya yang memungkinkan adalah memanfaatkan fasilitas satelit, dengan fasilitas teknologi maklumat (IT) berkemaskan pesan dan penghayatan agama Islam. Apa yang telah kita saksikan dalam tayangan TV di sejagat hari ini, mestilah kita balas dengan paket program dalam siaran yang banyak, yang berisikan kawalan-kawalan agama dan budaya (tamadun) dalam meng-counter upaya pendangkalan pihak-pihak sekuler.
Bila mungkin kita harus menggerakkan minat menghadirkan TV Islam yang dikemas global dan dengan muatan local untuk seluruh daerah kawasan Islam dunia, dengan bahasa komukasi dan ta’aruf. Kita mestinya menghadapi arus global dengan cara global tetapi dengan komunikasi local. Bisakah kita sebut dengan paket glocal (global dan local)???
Cabaran dakwah dilapangan adalah berhadapan dengan tantangan yang sangat banyak, namun uluran tangan yang didapat hanya sedikit. Mengatasi situasi ini hanya dengan modal kesadaran, dengan memanfaatkan jalinan hubungan yang sudah lama terbina.
Gerakan dakwah akan menjadi lemah bila tidak mampu melahirkan sikap (mental attitude) yang penuh semangat vitalitas, enerjik, dan bernilai manfaat sesama masyarakatnya. Secara Nasional mesti tertanam komitmen fungsional bermutu tinggi. Memiliki kemampuan penyatuan konsep-konsep, alokasi sumber dana, perencanaan kerja secara komprehensif, mendorong terbinanya center of excelences.
Pada ujungnya, tentulah tidak dapat ditolak suatu realita objektif bahwa, “Siapa yang paling banyak bisa menyelesaikan persoalan masyarakat, pastilah akan berpeluang banyak untuk mengatur masyarakat itu.”
Sungguh suatu kecemasan ada didepan kita, bahwa sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Dalam hubungan ini diperlukan penyatuan gerak langkah.
Memelihara sikap-sikap harmonis dengan menjauhi tindakan eksploitasi hubungan bermasyarakat. Penguatan lembaga kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam mencapai ujud keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’ (penguasa) yang adil, agar dapat dirasakan spirit reformasi.
Mengembalikan serumpun Melayu keakarnya ya’ni Islam tidak boleh dibiar terlalai. Karena akibatnya akan terlahir bencana. Acap kali kita di abaikan oleh dorongan hendak menghidupkan toleransi padahal tasamuh itu memiliki batas-batas tertentu pula.
Amatlah penting untuk mempersiapkan generasi umat yang mempunyai bekalan mengenali,
(a) keadaan masyarakat binaan, aspek geografi, demografi,
(b) sejarah, latar belakang masyarakat, kondisi sosial, ekonomi,
(c) tamadun, budaya,dan adat-istiadat berbudi bahasa yang baik.
Secara natural alamiah setiap tanah ditumbuhi tanaman khas. Berbeda tanaman menjadi taman sangat indah dalam satu tata pemeliharaan. Memaksa hanya ada satu tanaman yang boleh tumbuh dalam satu taman istana, akan menjadikan taman tidak berseri.
Tujuan akhirnya menghapuskan ketidak seimbangan serius melalui pendidikan dan prinsip-prinsip Islami.
Mementingkan kelompok semata akan sama halnya dengan membangun rumah untuk kepentingan rumah. Padahal, masyarakat lingkungan adalah media satu-satunya tempat beroperasinya dakwah sepanjang hidup.
Perlulah diingat, bahwa “yang banyak diperhatikan umat adalah yang paling banyak memperhatikan kepentingan umatnya”. Konsekwensinya setiap pemimpin umat harus siap menerima segala cobaan dari Allah.
Dalam pengalaman dilapangan dakwah kemajuan selalu dihalangi kelemahan yang dimiliki.
Keterbelakangan adalah penyakit yang melanda setiap orang.
Kurangnya perencanaan akan menghapus semangat kelompok dan padamnya inisiatif.
Kewajiban yang teramat krusial adalah, menghidupkan ketahanan umat baik secara nasional maupun regional.
Mempertemukan pemikiran dan informasi, konsultasi dan formulasi strategi serta koordinasi di era globalisasi memasuki alaf baru menjadi tugas utama dalam menapak keperubahan cepat dan drastis.
Di alaf baru, setiap hari akan terasa dunia semakin mengecil.
Rusaknya dakwah dalam pengalaman selama ini karena melaksanakan pesan sponsor diluar ketentuan wahyu agama.
Kemunduran dakwah selalu dibarengi oleh kelemahan klasik kekurangan dana, tenaga, dan hilangnya kebebasan gerak. Akhirnya, dapatlah dibuktikan bahwa kerjasama lebih baik dari sendiri.
Mengikut sertakan seluruh potensi umat, sangat mendukung gagasan dan gerak dakwah dalam mengawal umat agar jiwanya tidak mati.
Masyarakat yang mati jiwa akan sulit diajak berpartisipasi dan akan kehilangan semangat kolektifitas. Bahaya akan menimpa tatkala jiwa umat mati di tangan pemimpin.
Tugas kitalah menghidupkan umat.
Umat yang berada ditangan pemimpin otoriter dengan meninggalkan prinsip musyawarah sama hal nya dengan menyerahkan mayat ketangan orang yang memandikannya.
Karena itu, hidupkan lembaga dakwah sebagai institusi penting dalam masyarakat.
Tugas kita termasuk membuat rencana kerja agar dakwah tidak dikelola secara krisis dan darurat.
Dakwah merupakan suatu pekerjaan rutin.
Kesalahan dalam membuat rencana, maka tujuan dakwah menjadi kabur.
Salah menempatkan sumber daya yang ada akan berakibat kesalahan prioritas.
Perencanaan matang menjadikan gerakan dakwah berangkat dari hal yang logis (ma’qul, rasionil), selanjutnya sasaran dakwah dapat diterima oleh semua pihak.
Dakwah bukan kerja part-time sambilan bagi yang giat dan aktif saja.
Tetapi harus menjadi tugas full-time dari seluruh spesialis ditengah masyarakat, dan semestinya ditunjang oleh sarjana-sarjana spesialis, pedagang spesialis, birokrat spesialis, sehingga dapat disajikan sebagai suatu social action.
Memahami fenomena besar dan menarik dari perkembangan globalisasi akan membuka peluang perkembangan Islam untuk siap menerima kembali peradaban Islam sebagai alternatif untuk mewujudkan keselamatan didunia.
Dakwah kedepan adalah dakwah global, yang tujuannya adalah Islamisasi masyarakat Islam.
Lebih umum, adalah membangun, berkorban, mendidik, mengabdi, membimbing kepada yang lebih baik.
Tugas ini tak bolehlah diabaikan dalam berupaya merobah imej dari konfrontatif kepada kooperatif.
Akhirnya dapat dimengerti bahwa kebajikan akan ada pada hubungan yang terang dan transparan, sederhana dan tidak saling curiga.
Gila kekuasaan dan berebut kekuasaan, niscaya akan berakhir dengan masyarakat jadi terkoyak-koyak.
Nawaitu hanya bekerja tidak untuk mencari sukses, atau hanya bekerja asal jadi, sudah semestinya dirubah.
Yang mesti ditampilkan adalah amal karya bermutu ditengah percaturan kesejagatan (globalisasi).
Semakin kecil kesalahan yang ada akan semakin besar kemampuan dan keberhasilan dalam menyampaikan risalah dakwah.
Maka tidak dapat ditolak, kemestian menggunakan semua adab-adab Islam untuk menghadapi semua persoalan hidup manusia yang akan menjamin sukses dalam segala hal.
Kitapun harus mampu mengetengahkan, formula ukhuwah antar organisasi Islam, supaya dapat berjalan lebih baik dari keadaan yang sekarang.
Khulasahnya adalah memerankan kembali organisasi formal yang andal sebagai alat perjuangan dengan sistem komunikasi dan koor¬dinasi antar organisasi Islam.
Pada pola pembinaan dan kaderisasi pimpinan organisasi non formal secara jelas dalam gerak dakwahnya, harus mengupayakan berperan,
a. menjadi pengikat umat dalam upaya membentuk jamaah yang lebih kuat, sehingga merupakan kekuatan sosial yang efektif,
b. media pengembangan dan pemasyarakatan budaya Islami,
c. merupakan media pendidikan dan pembinaan umat untuk mencapai derajat pribadi taqwa, dengan merencanakan dan melaksanakan kegiatan dakwah Islamiyah.
d. Orgganisasi dakwah semestinya menjadi media pengembangan minat mengenai aspek kehidupan tertentu, ekonomi, sosial, budaya, dan politik dalam rangka mengembangkan tujuan kemasyarakatan yang adil dan sejahtera.
Maka, tidak dapat tidak mestilah dikembangkan dakwah yang sejuk, dakwah Rasulullah bil ihsan.
• Dengan prinsip yang jelas dan tidak campur aduk (laa talbisul haq bil bathil).
• Integrated , menyatu antara pemahaman dunia untuk akhirat, keduanya tidak boleh dipisah-pisah.
• Belajar kepada sejarah, dan amatlah perlunya gerak dakwah yang terjalin dengan net work (ta’awunik) yang rapi (bin-nidzam), untuk penyadaran kembali (re-awakening) generasi Islam tentang peran Islam membentuk tatanan dunia yang baik. Insya Allah.
Begitulah semestinya peranan lembaga-lembaga dakwah dalam menapak alaf baru.
Satu pertanyaan mestilah kita jawab segera.
Mampukah kita menukilkan sejarah yang lebih indah dan bermakna yang akan diwariskan untuk generasi sesudah kita ???
Kita dituntut untuk menampilkan Gerakan Dakwah yang lebih baik, lebih terpadu dan lebih berkualitas daripada yang telah dibuat dan diwariskan kepada kita oleh para pejuang mujahid dakwah sebelumnya dari barisan shaf para sabiquunal awwalun.
Jawabnya hanya mungkin ujud pada tinginya kesungguhan serta kuatnya prinsip jihad Ila Allah yang tertanam disetiap pribadi pendukung dakwah itu.
Semoga Allah senantiasa melapangkan jalan Nya untuk kita semua.
Amin.
Catatan :
Pada tanggal 31 Agustus sampai dengan 3 September 2000 telah berlangsung satu Seminar Dakwah dan Cabaran Serantau, bersempena (bersamaan) dengan Muktamar Sanawi ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) Ke 29, di Kuala Lumpur Malaysia, dengan mengambil tempat pada Pusat Latihan ABIM, Kajang dan Dewan Al Malik Faishal Pusat Matrikulasi Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia (UIAM).
Seminar Dakwah yang dihadiri oleh hampir 1000 peserta dari berbagai utusan negeri Serumpun Malaysia, dan bahkan para perutusan perwakilan luar negara diantaranya dari Bosnia Herzeghovina, Thailand, Pilipina, Myanmar, Kamboja, Laos, Singapura dan Indonesia. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengutus Pengurus DDII Sumbar yang dipimpin H. Mas’oed Abidin, H. Masfar Rasyid SH., (Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat) dan Ustadz H.A.R. Najib Adnan Lc., yang adalah para Wakil Ketua Pengurus DDII Sumbar dan Eko Yanche (Wartawan Mimbar Minang).
Pokok-pokok pikiran tentang Pengalaman Dakwah Serantau dalam menghadapi Cabaran Dakwah dan Penghayatan Islam ini disampaikan pada Seminar tersebut pada tanggal 1 September 2000 dan dibahas juga dalam Pertemuan Meja Bulat pada 31 Agustus 2000 bertempat di Shah’s Village Hotel Petaling Jaya Kuala Lumpur.
Padang / Kuala Lumpur, 29 hb.Agustus 2000.
nan dari surau lakuak turunan angku pakieh, cucu inyiek jaba dari rambuti guguak tabek sarojo, panyambuang warih patah tumbuah hilang baganti
Minggu, 17 Januari 2010
Jumat, 15 Januari 2010
SOLAT SUNAT GERHANA MATAHARI DAN BULAN
Solat Gerhana disebut di dalam bahasa arab dengan khusuf (الخُسُوفِ ) bagi bulan dan kusuf (الكُسُوفِ ) bagi matahari, iaitu hilangnya cahaya bulan atau matahari.
Ia bukanlah berlaku kerana kemurkaan Allah swt, tetapi merupakan petanda kepada kebesaran kekuasaan Allah swt. Ia juga berupaya menjadi peringatan kepada manusia tentang azab dan nikmat yang dijanjikan Allah swt pada hambanya kerana fenomena gerhana ini sangat besar ertinya samada dari penghayatan iman dan sains. Ia bukan fenomena baru yang hanya berlaku pada akhir zaman ini tapi telah berlaku sejak alam ini dijadikan dan juga pada zaman Nabi saw yang dikenali sebagai sebaik-baik kurun.
Dalilnya :
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. bahawa Nabi SAW bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَر َ آيَتَانِ مِنْ ايَاتِ اللهِ لاَيَخْسِفَان ِ لِمَوت ِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ
ذلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَتَصَدَّقُوا وَصَلُّوا
Maksud: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah kerana kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bersembahyanglah”
Dalilnya :
عن ابن مسعود الانصارقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله. يخوف بهما عباده. وَاِنَّهُمَا لا ينكسفان لموتِ أحد مِنَ النَّاسِ. فإذا رأيتم منها شيئا. فصلوا وادعوا الله يكشف ما بكم.
Maksud: Dari Abu Mas’ud Al Ansari beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari dan rembulan (bulan) adalah dua di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya (kalau sedang gerhana) oleh Allah digunakan untuk menakuti para hambaNya.. Dan keduanya tidaklah gerhana lantaran kematian seseorang di antara manusia. Kerana itu, apabila kalian melihatnya, maka lakukanlah solat dan berdoalah kepada Allah sampai hal yang menakutkan itu hilang”
Solat Khusuf/Kusuf adalah sunat Muakkad sama ada bagi orang yang bermukim atau bermusafir, merdeka atau hamba, lelaki atau perempuan dan sama ada ditunaikan secara berjamaah atau bersendirian
a). Bagi solat Gerhana Matahari waktunya bermula apabila ternyata berlaku gerhana dan berakhir dengan hilangnya gerhana itu, dan sehingga jatuh matahari dan gerhana tersebut. Sekiranya gerhana berlaku ketika atau selepas terbenam matahari, maka tidak ada solat gerhana.
b). Bagi Solat Gerhana Bulan waktunya bermula apabila ternyata berlakunya
atau awal terjadinya gerhana bulan dan berakhir dengan hilang gerhana
dan/atau naik (terbitnya) matahari.
Tidak dikira dengan naik fajar atau jatuhnya pada malam dengan gerhananya.
Sekiranya berlaku gerhana bulan ketika terbenamnya,
dan sebelum terbit fajar maka dibolehkan solat.
Tetapi jika terbenamnya bulan sesudah terbit fajar,
maka terdapat dua pendapat iaitu :
a). Qaul Qadim :
Tidak ada solat gerhana kerana kekuasaan bulan telah hilang
bila terbit fajar (subuh ).
b). Qaul Jadid :
Ada solat gerhana kerana kekuasaan bulan masih ada
sehingga terbit matahari ( syuruk ).
Catatan :
Di dalam mazhab Syafie dibolehkan bersolat walaupun ketika berlaku gerhana tersebut adalah waktu tahrim.
Boleh dilakukan di mana-mana saja, boleh di rumah, musolla, surau atau masjid.
Walau bagaimanapun yang lebih afdhal ialah masjid yang didirikan untuk Jumaat.
1). Lafaz Niat Solat Sunat Gerhana Matahari :
أُصَلِّى سُنَّةَ الكُسُوفِ رَكْعَتَينِ للهِ تَعَالَى
Artinya :
“ Sengaja aku solat sunat gerhana matahari dua rakaat kerana Allah Taala.”
2). Lafaz Niat Solat Sunat Gerhana Bulan
أُصَلِّى سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَينِ للهِ تَعَالَى
Artinya :
“ Sengaja aku solat sunat gerhana bulan dua rakaat kerana Allah Taala.”
3). Solat gerhana dilakukan sekurang-kurangnya 2 rakaat seperti solat sunat biasa. Yang akmalnya (sempurnanya) dilakukan dengan dua kali ruku’ dan 2 kali qiyam, pada tiap-tiap satu rakaat dengan tidak dipanjangkan bacaan pada rakaat yang kedua.
4). Yang terlebih akmal ialah dengan 2 rakaat, dengan 2 ruku dan qiyam bagi tiap-tiap satu rakaat dengan dipanjangkan bacaan pada kedua-dua rakaat.
Kaifiatnya adalah seperti berikut:
1. Berdasarkan hadis :
عن عائشة نحو حديث ابن عباس وقالت: أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم خَسَفَتِ الشَّمْسُ قَامَ فَكَبَّرَ وَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفُعَ رَأْسُهُُ فَقَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَقَاَم كَمَا هُوَ نَقَرَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً وَهِىَ أَدْنى مِنَ القِرَاءَةِ الأُولَى ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً وَهِىَ أَدْنَى مِنَ الرَّكْعَةِ الأُولَى ثُمَّ سَجَدَ سُجُودًا طَوِيلاً ثُمَّ فَعَلَ ِفي الرَّكْعَةِ الآخَِرةِ مِثْلَ ذلِكَ ثُمَّ سَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسِ فَقَالَ ِ في كُسُوفِ الشَّمْسِ وَالقَمَرِ إِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آياَتِ اللهِ َلا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وََلا لحَِيَاتِهَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ.
Maksud: Dari Aisyah r.a. berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah SAW berdiri (di masjid) pada hari terjadi gerhana matahari, lalu baginda mengadakan solat gerhana dan membaca bacaan yang panjang,
(seukur seratus ayat surah al-Baqarah),
kemudian beliau mengangkat kepala dan mengucapkan Sami’ Allahhu Liman Hamidah,
dan beliau berdiri lalu membaca bacaan yang panjang,
sedang bacaan (dalam berdiri yang kedua) ini sedikit berkurang
daripada bacaan yang pertama,
kemudian beliau ruku’ dengan ruku’ yang panjang,
sedang ruku’ ini berkurang dari ruku’ pertama,
kemudian beliau sujud dengan sujud yang panjang
(bertasbih seukur bacaan seratus ayat),
kemudian beliau bertindak sepadan demikian (rakaat pertama) itu
pada rakaat yang akhir (kedua),
Selanjutnya beliau mengakhiri solatnya dengan salam,
sedang gerhana matahari telah berakhir.
Lalu baginda berkhutbah kepada manusia:
“Pada gerhana matahari dan bulan,
sesungguhnya keduanya adalah dua tanda (kebesaran)
di antara tanda-tanda kebesaran Allah.
Keduanya tidaklah terjadi gerhana kerana kematian seseorang
pula tidaklah kerana kehidupan seseorang.
Maka apabila kalian melihat keduanya (gerhana)
maka bersyukurlah dan dirikanlah solat gerhana " ..
(Riwayat Bukhari 4-hlm: 358)
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بنِ العَاصِ أَنَّهُ قَالَ: لَمَّا انْكَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ نُودِىَ بِ ( الصَّلاَةُ جَامِعَةً ) فَرَكـَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَينِ فِى سَجْدَةٍ. ثُمَّ قَامَ فَرَكـَعَ رَكْعَتَينِ فِى سَجْدَةٍ. ثُمَّ جُلِّىَ عَنِ الشَّمْسِ. فَقَالَتْ عَائشَةُ: مَا رَكَعْتُ رُكُوعًا قَطَُّ. وَلاَ سَجَدتُ سُجُودًا قَطَُّ. كَانَ اَطْوَلَ مِنْهُ.
Maksud: Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, beliau berkata:
“Tatkala matahari gerhana pada masa Rasulullah SAW,
maka diserukan : ‘as solatu jami`ah’.
Lalu Rasulullah SAW melakukan dua kali ruku’ dalam satu rakaat.
Kemudian berdiri lagi dan melakukan dua kali ruku’ dalam satu rakaat.
Kemudian matahari kembali muncul.
Aisyah berkata:
“Aku sama sekali tidak pernah melakukan ruku’ ataupun sujud
yang lebih lama daripada itu”
(Sahih Muslim 2-hlm: 81)
Secara ringkasnya seperti berikut :
1. Takbiratul Ihram.
2. Membaca doa iftitah.
3. Membaca Ta`awudz. ( تعاوز )
4. Membaca surah al-Fatihah.
5. Membaca mana-mana surah, yang terlebih afdhal surah al-Baqarah.
6. Ruku’ dan membaca tasbih kira-kira membaca 100 ayat.
7. Iktidal serta membaca surah al-Fatihah dan membaca surah ali-Imran atau mana-mana surah yang mudah.
8. Ruku' dangan membaca tasbih kira-kira membaca 90 ayat.
9. Iktidal.
10.Sujud dan membaca tasbih.
11.Duduk antara 2 sujud.
12.Sujud kembali.
13.Berdiri ke rakaat kedua.
b. Rakaat kedua.
1. Membaca surah al-Fatihah.
2. Membaca surah al-Nisa’ atau mana-mana surah.
3. Ruku’ dan membaca tasbih kira-kira membaca 70 ayat semasa ruku’.
4. Iktidal serta membaca surah al-Fatihah dan membaca surah al-Maidah
atau mana saja surah yang mudah.
5. Ruku' dangan membaca tasbih kira-kira membaca 50 ayat.
6. Iktidal.
7. Sujud dan membaca tasbih.
8. Duduk antara 2 sujud.
9. Sujud kembali.
10.Membaca tasyahud akhir.
11.Memberi salam.
Beberapa Catatan ;
a. Tidak perlu iqamah tapi cukup sekadar ucapan : ( الصِّلاَةُ جَامِعَةً )
b. Sunat menyaringkan suara pada bacaan Fatihah dan surah ketika solat sunat gerhana bulan dan perlahan ketika solat sunat gerhana matahari.
c. Disunatkan mandi untuk solat gerhana, seperti hendak solat Jumaat.
Khutbah Solat Gerhana :
Dalil dari Aisyah r.a. berkata :
ثم سلم وقد تجلت الشمس فخطب الناس فقال في كسوف الشمس والقمر إنهما آيتان
من آيات الله لا يخسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتموهما فافزعوا إلى الصلاة.
Artinya :
Selanjutnya beliau mengakhiri solatnya dengan salam,
sedang gerhana matahari telah berakhir.
Lalu baginda berkhutbah kepada manusia:
“Pada gerhana matahari dan bulan,
sesungguhnya keduanya adalah dua tanda (kebesaran)
di antara tanda-tanda kebesaran Allah.
Keduanya tidaklah terjadi gerhana kerana kematian seseorang
pula tidaklah kerana kehidupan seseorang.
Maka apabila kalian melihat keduanya (gerhana)
maka lakukanlah solat gerhana”
(Riwayat Bukhari 4-hlm: 358)
1). Sunat membaca khutbah selepas solat sunat, walaupun gerhana sudah hilang.
2). Khutbahnya seperti khutbah hari raya tetapi tidak sunat bertakbir.
3). Isi khutbah hendaklah menyuruh para jemaah bertaubat, bersedekah, memerdekakan hamba, berpuasa, mengingati manusia supaya tidak lalai, jangan leka dengan dunia dan sebagainya.
4). Jika solat itu hanya terdiri dari wanita semata-mata, maka tidak perlu khutbah. ( Khutbah adalah seperti dilampirkan )
Secara umumnya bila ada pertemuan antara beberapa shalat sunat lainnya,
maka kaedahnya didahulukan yang paling ringan.
Sekiranya sama nilainya, maka didahulukan yang paling kuat.
Contoh :
a). Jika ada pertemuan antara solat gerhana dengan solat jenazah maka didahulukan solat jenazah.
b). Jika pertemuan gerhana antara solat gerhana dengan solat fardhu di awal waktu maka didahulukan solat gerhana kerana dibimbangi matahari atau bulan kembali cerah. Tetapi jika berlaku pertemuan peristiwa gerhana itu diakhir waktu solat fardhu maka didahulukan solat fardhu.
c). Jika pertemuan gerhana terjadi di antara solat gerhana dengan witir didahulukan solat gerhana.
RUJUKAN:
1. Matla’ Badrain.
2. Abu Ishaq Bin Ali Bin Yusuf al-Fairuzabadi, Al-Muhazzab, Juz 1, terj : Ali Achmad, Muhammad Yasin, Abdullah & Huda, Perniagaan Jahabersa. Perniagaan Jahabersa.
3. Ust Hj. Fadzil Hj. Ahmad. Hidup Ibadat , Pusat Pemasaran Motivasi, K.L
4. Dr. Abdul Karim Zaidan, Ensiklopedia Hukum wanita dan keluarga, Kajian mendalam masalah wanita & keluarga dalam perspektif syariat Islam. Pustaka Dini.
5. http://www.islamweb.net
Label:
Buya Masoed Abidin,
fatwa,
Ibadah,
Surau Buya
Kamis, 14 Januari 2010
WAKTU TERISI DENGAN BEKAL TAQWA BERSIAP MELANGKAH KE KEHIDUPAN BARU
OLEH ; BUYA H. MAS’OED ABIDIN
الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ.
وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ،
صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَ عَلىَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. وَ رَضِيَ اللهُ عَمَّنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ وَ اهْتَدَى بِسُنَّتِهِ،
وِ جَاهَدَ جِهَادَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ
Tangga+al+Haram.jpeg)
Firman Allah SWT:
… mengapa kamu kafir kepada Allah,
Padahal kamu tadinya mati,
lalu Allah menghidupkan kamu,
kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,
kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?
Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu
dan Dia berkehendak (menciptakan) langit,
lalu dijadikan-Nya tujuh langit.
dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
(Q.S. Al-Baqarah: 28-29)
1. “Bila enqkau berpulang ke alam baqa’ -- dan itu pasti ditemui --
ketika itu, kamu pulang tanpa membawa bekal taqwa,
Sedang engkau melihat orang-orang membawanya pada hari penghimpunan,
niscaya -- keika itu -- engkau pasti menyesal ....
karena engkau tidak seperti mereka,
mereka mempunyai persiapan ...
sedang engkau tidak memilikinya”.
(Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid)

2. “Hidup itu ibarat tidur, sedang mati seolah bangun berbaur.”
Begitu ungkapan Al Hitami.
Pujangga sufi kelahiran Spanyol.
Sekilas pernyataan Al Hitami ini nampak bertolak belakang
dengan analogi yang berkembang dlm masyarakat banyak,
bahwa « .. mati itu ibarat tidur, atau tidur itu bagaikan mati… »

Di dalam tidurnya seseorang terkadang mendapat pengalaman unik dan menarik.
Ia senang dan gembira.
Bahagia dan bangga ketika nasib sedang mujur.
Harta melimpah dan fasilitas mewah menyelimuti.
Tatkala bernasib malang,
rasanya serba tidak tenang.
Resah dan gelisah datang silih berganti.
Semua aneka kehidupan sebenarnya seperti mimpi orang yang tidur.
Ketika terbangun semua sirna,
Lewat pernyataan Al Hitami tersimpan wasiat berharga.
Bahwa apapun yang sedang kita peroleh dalam hidup ini,
tidak boleh congkak atau sombong.
Tidak boleh lupa daratan dan meninggalkan pegangan agama,
pergaulan kerabat dan sahabat.
Sebenarnya rotasi kehidupan itu ibarat perputaran roda.
Ketika sedang berada dibagian atas jangan merasa lebih.
Sebaliknya, ketika berada di bawah jangan bersedih hati.
3. Menurut akidah Islam,
hidup yang kita jalani ini bukan hidup yang paripurna.
Kita masih akan memasuki sesi berikut.
« Hidup sesudah mati ».
Sebuah kehidupan yang kekal abadi ada di akhirat kelak.

Kita semua yakin bahwa mati itu pasti akan tiba.
Cepat atau lambat.
Tidak membedakan status sosial, ekonomi ataupun usia.
Orang kaya yang juga didatangi malaikat Izrail.
Tidak sedikit yang muda belia tiba-tiba meninggal.
Kematian berlaku untuk segala umur dan semua lapisan.
Maut tiba tanpa memberi tahu.
Firman Allah SWT:
… di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu …,
Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh …,
dan jika mereka memperoleh kebaikan
[Kemenangan dalam peperangan atau rezki.],
mereka mengatakan:
"Ini adalah dari sisi Allah",
dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan:
"Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)".
Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah"…
(Q.S An-Nisa’:78)
Sebagai kaum muslimin tidak seharusnya takut akan kematian.
Kematian adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang dijanjikan Allah,
buat mereka yang beriman dan melakukan kebajikan dalam hidupnya.
Mari kita perhatikan tuntunan Rasulullah SAW ini:
“Pergunakanlah lima masa sebelum datang lima masa ;
1. pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu,
2. pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu,
3. pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
4. pergunakanlah masa kayamu, sebelum datang masa kefakiranmu dan
5. pergunakanlah masa hidupmu sebelum datang saat kematianmu”.
(HR. Al Baihaqi).
Marilah kita memulai hidup kita dengan langkah yang baru,
dengan energi dan semangat yang baru.
Kita tinggalkan masa lalu yang kurang bermanfaat.
Kita terus berjalan menelusuri lorong kehidupan
menuju ke kampung akhirat.
Umur diisi dengan amal dan mengabdi kepada Allah SWT.
Jangan membuang-buang waktu dan usia.
Waktu amat berharga.
Mesti digunakan untuk yang bermanfaat.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah termulia.
Dia perlu menjaga dan menghargai umur dengan bertaqwa.
Agar kemuliaan tetap bertahan menjadi hak manusia.
Kini kita telah memasuki tahun 1431 H/2010 M.
Tahun yang lalu sudah menjadi masa yang telah kita tinggalkan.
Tahun selanjutnya menanti di hadapan.
Kita tidak tahu berapa banyak Allah menyediakan jatah hidup kepada kita.
Kita patut bersyukur kepada Allah yang memberi umur hingga saat ini.
Namun, jika kita simak sya’ir Abu Nawas ;
“ ..... Umurku berkurang setiap hari ....
Sedang dosa terus bertambah ....
Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya ....” ???.
Maka pergantian tahun memiliki arti yang lain.
Memasuki tahun baru berarti sisa umur kita makin berkurang.
Kita tidak tahu kapan berakhir.
Otomatis, maut semakin dekat.

Kewajiban kita mengisi sisa usia ini lebih produktif dan menguntungkan.
Tidak boleh rugi. Sebelum umur berakhir.
Akal sehat yang bersandar kepada iman akan bangkit memacu diri
dalam mengisi sisa umur dengan amal karya yang baik, shaleh dan ketaqwaan.
Akal sehat memandu kita agar sisa umur tak sia-sia.
Semoga Allah meridhai kita ..
Amin.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ
لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ،
اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ.
وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ، لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ،
صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَ عَلىَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. وَ رَضِيَ اللهُ عَمَّنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ وَ اهْتَدَى بِسُنَّتِهِ،
وِ جَاهَدَ جِهَادَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ
Firman Allah SWT:
… mengapa kamu kafir kepada Allah,
Padahal kamu tadinya mati,
lalu Allah menghidupkan kamu,
kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,
kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?
Dia-lah Allah,
yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu
dan Dia berkehendak (menciptakan) langit,
lalu dijadikan-Nya tujuh langit.
dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
(Q.S. Al-Baqarah: 28-29)
1. “Bila enqkau berpulang ke alam baqa’ -- dan itu pasti ditemui --
ketika itu, kamu pulang tanpa membawa bekal taqwa,
Sedang engkau melihat orang-orang membawanya pada hari penghimpunan,
niscaya -- keika itu -- engkau pasti menyesal ....
karena engkau tidak seperti mereka,
mereka mempunyai persiapan ...
sedang engkau tidak memilikinya”.
(Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam kitabnya Al Fawaid)

2. “Hidup itu ibarat tidur, sedang mati seolah bangun berbaur.”
Begitu ungkapan Al Hitami.
Pujangga sufi kelahiran Spanyol.
Sekilas pernyataan Al Hitami ini nampak bertolak belakang
dengan analogi yang berkembang dlm masyarakat banyak,
bahwa « .. mati itu ibarat tidur, atau tidur itu bagaikan mati… »

Di dalam tidurnya seseorang terkadang mendapat pengalaman unik dan menarik.
Ia senang dan gembira.
Bahagia dan bangga ketika nasib sedang mujur.
Harta melimpah dan fasilitas mewah menyelimuti.
Tatkala bernasib malang,
rasanya serba tidak tenang.
Resah dan gelisah datang silih berganti.
Semua aneka kehidupan sebenarnya seperti mimpi orang yang tidur.
Ketika terbangun semua sirna,
Lewat pernyataan Al Hitami tersimpan wasiat berharga.
Bahwa apapun yang sedang kita peroleh dalam hidup ini,
tidak boleh congkak atau sombong.
Tidak boleh lupa daratan dan meninggalkan pegangan agama,
pergaulan kerabat dan sahabat.
Sebenarnya rotasi kehidupan itu ibarat perputaran roda.
Ketika sedang berada dibagian atas jangan merasa lebih.
Sebaliknya, ketika berada di bawah jangan bersedih hati.
3. Menurut akidah Islam,
hidup yang kita jalani ini bukan hidup yang paripurna.
Kita masih akan memasuki sesi berikut.
« Hidup sesudah mati ».
Sebuah kehidupan yang kekal abadi ada di akhirat kelak.

Kita semua yakin bahwa mati itu pasti akan tiba.
Cepat atau lambat.
Tidak membedakan status sosial, ekonomi ataupun usia.
Orang kaya yang juga didatangi malaikat Izrail.
Tidak sedikit yang muda belia tiba-tiba meninggal.
Kematian berlaku untuk segala umur dan semua lapisan.
Maut tiba tanpa memberi tahu.
Firman Allah SWT:
… di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu …,
Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh …,
dan jika mereka memperoleh kebaikan
[Kemenangan dalam peperangan atau rezki.],
mereka mengatakan:
"Ini adalah dari sisi Allah",
dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan:
"Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)".
Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah"…
(Q.S An-Nisa’:78)
Sebagai kaum muslimin tidak seharusnya takut akan kematian.
Kematian adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang dijanjikan Allah,
buat mereka yang beriman dan melakukan kebajikan dalam hidupnya.
Mari kita perhatikan tuntunan Rasulullah SAW ini:
“Pergunakanlah lima masa sebelum datang lima masa ;
1. pergunakanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu,
2. pergunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu,
3. pergunakanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
4. pergunakanlah masa kayamu, sebelum datang masa kefakiranmu dan
5. pergunakanlah masa hidupmu sebelum datang saat kematianmu”.
(HR. Al Baihaqi).
Marilah kita memulai hidup kita dengan langkah yang baru,
dengan energi dan semangat yang baru.
Kita tinggalkan masa lalu yang kurang bermanfaat.
Kita terus berjalan menelusuri lorong kehidupan
menuju ke kampung akhirat.
Umur diisi dengan amal dan mengabdi kepada Allah SWT.
Jangan membuang-buang waktu dan usia.
Waktu amat berharga.
Mesti digunakan untuk yang bermanfaat.
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah termulia.
Dia perlu menjaga dan menghargai umur dengan bertaqwa.
Agar kemuliaan tetap bertahan menjadi hak manusia.
Kini kita telah memasuki tahun 1431 H/2010 M.
Tahun yang lalu sudah menjadi masa yang telah kita tinggalkan.
Tahun selanjutnya menanti di hadapan.
Kita tidak tahu berapa banyak Allah menyediakan jatah hidup kepada kita.
Kita patut bersyukur kepada Allah yang memberi umur hingga saat ini.
Namun, jika kita simak sya’ir Abu Nawas ;
“ ..... Umurku berkurang setiap hari ....
Sedang dosa terus bertambah ....
Bagaimana mungkin aku bisa memikulnya ....” ???.
Maka pergantian tahun memiliki arti yang lain.
Memasuki tahun baru berarti sisa umur kita makin berkurang.
Kita tidak tahu kapan berakhir.
Otomatis, maut semakin dekat.

Kewajiban kita mengisi sisa usia ini lebih produktif dan menguntungkan.
Tidak boleh rugi. Sebelum umur berakhir.
Akal sehat yang bersandar kepada iman akan bangkit memacu diri
dalam mengisi sisa umur dengan amal karya yang baik, shaleh dan ketaqwaan.
Akal sehat memandu kita agar sisa umur tak sia-sia.
Semoga Allah meridhai kita ..
Amin.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.
اللَّهُمَّ اصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَ اصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتيِ فِيْهَا مَعَاشِنَا، وَ اصْلِحْ
لَنَا آخِرَتِنَا الَّتيِ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَ اجْعَلِ اْلحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فيِ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ سَرٍ،
اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا ِمنْ أَمْسِنَا، وَ اجْعَلْ غَدَنَا خَيْرًا ِمْن يَوْمِنَا، وَ احْسِنْ عَاقِبَتَنَا فيِ الأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَ أَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَ عَذَابِ الآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ وَ تبُ ْعَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ. وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
Label:
Buya Masoed Abidin,
Surau Buya
Sabtu, 21 Maret 2009
Islam Nusantara
Islam Masuk ke Nusantara Saat Rasulullah Shollalloohu 'Alayhi wa Sallam Masih hidup
Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.
Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.
Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad Shollalloohu 'Alayhi wa Sallam menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.
Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad Shollalloohu 'Alayhi wa Sallam belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.
Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.
Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.
Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.
Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.
“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah Shollalloohu 'Alayhi wa Sallam menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).
Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.
Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.
Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.
Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.
Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai
Senin, 02 Februari 2009
Hasil-hasil pokok Rumusan Forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa III se Indonesia yang digelar di Padangpanjang, Sumatera Barat dihadiri 700 ulama/cendekia
Hasil-hasil pokok Rumusan Forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa III
se-Indonesia yang digelar di Padangpanjang, Sumatera Barat beberapa
waktu yang lalu yang dihadiri 700 ulama dan cendikiawan:
- Hukum tak Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilu
Pemilu dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau
wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita
bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa. Memilih
pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan
dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon
yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.
- Hukum Merokok
Ada dua pendapat akhir untuk hukum merokok yakni makruh dan haram.
Merokok diharamkan:
a. Di tempat umum,
b. Bagi anak-anak,
c. Bagi wanita hamil.
- Pernikahan Dini
Pada dasarnya, Islam tidak memberikan batasan usia minimal pernikahan
secara definitif. Usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan
berbuat dan menerima hak (ahliyatul ada' wa al-wujub), sebagai
ketentuan sinn al-rusyd.
Pernikahan usia dini hukumnya sah sepanjang telah terpenuhinya syarat
dan rukun nikah, tetapi haram jika diduga mengakibatkan mudharat.
Untuk mencegah terjadinya pernikahan usia dini yang berdampak pada
hal-hal yang bertentangan dengan tujuan dan hikmah pernikahan,
pemerintah diminta untuk lebih meningkatkan sosialisasi tentang UU
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
- Senam Yoga
Yoga yang murni mengandung ritual dan spiritual agama lain, hukum
melakukannya bagi orang Islam adalah haram. Yoga yang mengandung
meditasi dan mantra atau spiritual dan ritual ajaran agama lain
hukumnya haram, sebagai langkah preventif (sadd al-dzari'ah). Yoga
yang murni olahraga pernafasan untuk kepentingan kesehatan hukumnya
mubah (boleh).
- Vasektomi
Vasektomi sebagai alat kontrasepsi KB sekarang ini dilakukan dengan
memotong saluran sperma. Hal itu berakibat terjadinya kemandulan
tetap. Upaya rekanalisasi (penyambungan kembali) tidak menjamin
pulihnya tingkat kesuburan kembali yang bersangkutan. Oleh sebab itu,
Itima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia memutuskan praktek vasektomi
hukumnya haram.
- Bank Mata dan organ tubuh lain
Masalah donor, transplantasi dan Bank Mata merupakan fikih
ijtima'i/fikih yang bersifat kemasyarakatan. Oleh karena itu untuk
menghindarkan hal-hal yang bersifat negatif yang tidak kita inginkan
aplikasinya, pemerintah diminta mengeluarkan pengaturan lewat
undang-undang kesehatan, untuk menegakkan kemaslahatan dan
menghindarkan diri dari penyimpangan.
- Konsumsi Makanan Halal
Produsen yang telah memperoleh sertifikat Halal wajib menjaga status
kehalalan produknya melalui penerapan Sistem Jaminan Halal sebagaimana
yang telah ditetapkan oleh LP-POM MUI. Pemerintah wajib melakukan
pengawasan terhadap kehalalan produk. Pemerintah dan DPR-RI diminta
untuk segera menuntaskan pembahasan RUU tentang Jaminan Halal. osa
(-)
(Dikutip dari "Ijtima Ulama Tetapkan 24 Fatwa Baru", Republika
Selasa, 27 Januari 2009 http://www.republika.co.id/koran/14/28049.html)
se-Indonesia yang digelar di Padangpanjang, Sumatera Barat beberapa
waktu yang lalu yang dihadiri 700 ulama dan cendikiawan:
- Hukum tak Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilu
Pemilu dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau
wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita
bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa. Memilih
pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan
dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon
yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.
- Hukum Merokok
Ada dua pendapat akhir untuk hukum merokok yakni makruh dan haram.
Merokok diharamkan:
a. Di tempat umum,
b. Bagi anak-anak,
c. Bagi wanita hamil.
- Pernikahan Dini
Pada dasarnya, Islam tidak memberikan batasan usia minimal pernikahan
secara definitif. Usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan
berbuat dan menerima hak (ahliyatul ada' wa al-wujub), sebagai
ketentuan sinn al-rusyd.
Pernikahan usia dini hukumnya sah sepanjang telah terpenuhinya syarat
dan rukun nikah, tetapi haram jika diduga mengakibatkan mudharat.
Untuk mencegah terjadinya pernikahan usia dini yang berdampak pada
hal-hal yang bertentangan dengan tujuan dan hikmah pernikahan,
pemerintah diminta untuk lebih meningkatkan sosialisasi tentang UU
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
- Senam Yoga
Yoga yang murni mengandung ritual dan spiritual agama lain, hukum
melakukannya bagi orang Islam adalah haram. Yoga yang mengandung
meditasi dan mantra atau spiritual dan ritual ajaran agama lain
hukumnya haram, sebagai langkah preventif (sadd al-dzari'ah). Yoga
yang murni olahraga pernafasan untuk kepentingan kesehatan hukumnya
mubah (boleh).
- Vasektomi
Vasektomi sebagai alat kontrasepsi KB sekarang ini dilakukan dengan
memotong saluran sperma. Hal itu berakibat terjadinya kemandulan
tetap. Upaya rekanalisasi (penyambungan kembali) tidak menjamin
pulihnya tingkat kesuburan kembali yang bersangkutan. Oleh sebab itu,
Itima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia memutuskan praktek vasektomi
hukumnya haram.
- Bank Mata dan organ tubuh lain
Masalah donor, transplantasi dan Bank Mata merupakan fikih
ijtima'i/fikih yang bersifat kemasyarakatan. Oleh karena itu untuk
menghindarkan hal-hal yang bersifat negatif yang tidak kita inginkan
aplikasinya, pemerintah diminta mengeluarkan pengaturan lewat
undang-undang kesehatan, untuk menegakkan kemaslahatan dan
menghindarkan diri dari penyimpangan.
- Konsumsi Makanan Halal
Produsen yang telah memperoleh sertifikat Halal wajib menjaga status
kehalalan produknya melalui penerapan Sistem Jaminan Halal sebagaimana
yang telah ditetapkan oleh LP-POM MUI. Pemerintah wajib melakukan
pengawasan terhadap kehalalan produk. Pemerintah dan DPR-RI diminta
untuk segera menuntaskan pembahasan RUU tentang Jaminan Halal. osa
(-)
(Dikutip dari "Ijtima Ulama Tetapkan 24 Fatwa Baru", Republika
Selasa, 27 Januari 2009 http://www.republika.co.id/koran/14/28049.html)
Minggu, 01 Februari 2009
Nagari Kotogadang yang fantastis, sebagaimana ditulis oleh Suryadi dari Leiden
Sumber: Padang Ekspres, Minggu, 01 Februari 2009
NAGARI KOTO GADANG YANG FANTASTIS

Oleh Suryadi
Minggu yang lalu perhatian masyarakat Minangkabau, bahkan mungkin nasional, kembali tertuju ke Koto Gadang. Pada 24 & 25 Januari 2009 di nagari yang terletak di tepi Ngarai Sianok dan di barat kota Bukittinggi ini telah dilangsungkan puncak perhelatan Rang Minang Baralek Gadang, yang dihadiri oleh Wakil Presiden H.M. Jusuf Kalla.
Pesta itu sendiri sudah usai bersamaan dengan berakhirnya rangkaian iven yang digelar di beberapa tempat dalam rangka alek gadang itu. Koto Gadang mungkin akan kembali lengang, sebagaimana banyak nagari lainnya di Minangkabau yang ditinggal pergi oleh warganya yang merantau ke berbagai belahan dunia.
Tapi apakah yang dapat kita pelajari dari perjalanan sejarah Koto Gadang, sebuah nagari Minangkabau yang, sejak ditulis oleh K.A. James dalam artikelnya “De Nagari Kota Gedang” dalam Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur 49 (1916) hingga kini, seringkali menarik perhatian para peneliti sejarah sosial masyarakat Minangkabau?
Untuk tingkat sebuah kampung, Koto Gadang memang fenomenal. Nagari yang hanya terdiri dari tiga jorong itu (Koto Gadang, Gantiang, dan Subarang Koto Gadang) sudah lebih awal mengecap kemajuan, jauh mendahului ratusan ribu desa-desa lainnya di seantero Republik ini. Dan untuk ukuran sebuah nagari, kemajuan itu boleh dikatakan hampir sempurna dan…..sungguh menakjubkan!
Koto Gadang—nagarinya “the saint Tuanku Malim Kecil”, meminjam istilah Jeffrey Hadler (2008:118)—adalah contoh mikro sebuah masyarakat timur yang lebih awal memperoleh pencerahan (enlightenment) Barat. Akan tetapi, sungguh ajaib, mengapa pencerahan itu mampir di Koto Gadang pada abad ke-19, sebuah desa kecil dalam ‘belantara’ keterbelakangan dunia timur pada zaman itu?
Sampai akhir abad ke-18 Koto Gadang, seperti banyak nagari lainnya di Minangkabau, adalah sebuah kampung yang tak pula bebas dari keterbelakangan yang dibikin sengsara oleh pergolakan agama. Seperti dicatat dalam Naskah Tuanku Imam Bonjol, Koto Gadang ikut menjadi sasaran jihad Kaum Paderi. Mereka pun melakukan purifikasi agama di nagari ini di bawah pimpinan Tuanku nan Kecil.
Tetapi Koto Gadang berubah drastis begitu Belanda keluar sebagai pemenang Perang Paderi. Beberapa tahun sebelum perang itu berakhir, tepatnya di tahun 1833, Belanda mengumumkan Plakat Panjang di Minangkabau. Kota Gedang—begitu sering ditulis dalam dokumen-dokumen klasik di zaman kolonial—yang menjadi pusat administrasi Kelarasan IV Koto dijadikan sebagai salah satu desa percontohan oleh Belanda dalam penanaman komoditas ekspor kopi.
Rupanya masyarakat Koto Gadang merebut kesempatan reformasi pertanian yang diluncurkan Belanda itu dengan sebaik-baiknya.
Dengan memakaikan mamangan adat “bialah panguih baluluak asa tanduak lai makan”, para pemimpin Koto Gadang beserta masyaraktnya bekerjasama dengan Belanda. Mereka berusaha menyerap ilmu apapun yang ada di kepala bangsa penjajah itu.
Sambil menanam produk unggulan kopi, masyarakat Koto Gadang mempelajari sistem pertanian ‘modern’ yang diajarkan Belanda. Hasilnya: mereka meraup keuntungan ekonomi darinya.
Dalam dekade 1840-1850-an nagari Koto Gadang memonopoli distribusi kopi, dan banyak dari penduduknya yang berjumlah 2.500 jiwa menjadi kaya dan sejahtera karenanya, seperti disaksikan oleh Ida Pfeiffer, seorang petualang wanita asal Jerman yang mengunjungi nagari itu pada tahun 1852 (Von de Wall [transl.] 1878).
Salah seorang yang terkaya di Koto Gadang pada waktu itu adalah Radjo Mangkuto yang menguasai kartel transportasi kopi. Ia kemudian pergi naik haji dan melanjutkan perjalanannya ke Belanda. Ia mempersembahkan contoh sulaman benang emas terhalus buatan wanita Koto Gadang kepada Raja Belanda Willem III (Hadler 2008:121).
Keluarga Radjo Mangkuto merepresentasikan cara masyarakat Koto Gadang meraih kemajuan dengan menimba ilmu dari sang penjajah (Belanda). Mereka adalah contoh awal dari apa yang disebut oleh Elizabeth E Graves (1981) sebagai kelompok elite Minangkabau modern.
Saudara Radjo Mangkuto yang bernama Abdul Rahman menjadi hoofdjaksa di Bukittinggi. Saudaranya yang lain, Abdul Latief, menjadi bumiputera pertama yang menjadi kepala sekolah di Normaalschool Bukittinggi ketika sekolah itu dibuka tahun 1856. Jejaknya di kemudian hari dilanjutkan oleh putra Koto Gadang yang lain, Moehammad Taib.
Sukses keluarga Radjo Mangkuto disuritauladani oleh banyak keluarga lain di Koto Gadang. Hasilnya: di tahun-tahun berikutnya sampai paruh pertama abad ke-20 masyarakat Koto Gadang memetik buah englihtenment Barat (lihat rekaman historisnya dalam: Syaifoeddin St. Malintang, Koto Gadang dari Zaman ke Zaman, 1985; Azizah Etek, Mursjid A.M., Arfan B.R., Koto Gadang Masa Kolonial, 2007).
Ada dua kunci penting dari pencerahan itu yang benar-benar dipraktekkan oleh anak nagari Koto Gadang dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua kunci itu adalah pendidikan sekuler dan tradisi berorganisasi.
Masyarakat Koto Gadang tidak pelit membelanjakan uang untuk kemajuan pendidikan anak-kemenakan mereka. Dan para cerdik pandainya tidak hitung-hitungan tenaga dalam membina organisasi demi kemajuan anak negeri. Alhasil, banyak putra Koto Gadang berhasil mencapai pendidikan tinggi di Jawa dan juga di Belanda. Ini tiada lain karena buah dari pencerahan yang lebih awal yang telah diterima oleh orang tua dan ninik-mamak mereka.
Ketika para orang tua dan ninik-mamak di nagari-nagari lain masih takut memasukkan anak-anak mereka ke sekolah sekuler bikinan Belanda dan menganggap kepandaian menulis aksara Latin akan diganjal dengan hukum potong tangan oleh Tuhan di akhirat nanti, para orang tua dan ninik-mamak di Koto Gadang sudah berlomba-lomba menyekolahkan anak-kemenakan mereka ke sekolah-sekolah Belanda.
Pada awal abad ke-20 masyarakat Koto Gadang boleh dikatakan sudah hidup ‘modern’ dan bersih. Mungkin nagari inilah yang pertama kali membuat fasilitas PAM (Perusahaan Air Minum) atau waterleiding untuk keperluan masyarakatnya sendiri (didirikan tahun 1924).
Ninik-mamak Koto Gadang yang 24 membina nagarinya dengan pandua pencerahan Barat. Masyarakat Koto Gadang membuat organisasi-organisasi profesi, tak ketinggalan juga kaum wanitanya dengan Meisjes Vereeniging Koto Gadang mereka.
Suryadi (Penulis) dan Jepe
Pendidikan, penyediaan lapangan kerja di bidang pertanian dan industri rumah tangga (khususnya tenunan dan industri kerajinan perak), dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas para perantau dengan ninik-mamak yang 24.
Ratusan putra-putri Koto Gadang yang terdidik dan pintar berbahasa Belanda—doktor, dokter, insinyur, ahli hukum dll.—menyebar dari Sabang sampai Merauke. Mereka menduduki berbagai jabatan penting dalam administrasi kolonial Belanda. Di senjakala kolonialsme beberapa di antaranya muncul sebagai pemimpin nasional yang kemudian berlanjut ke zaman kemerdekaan. Keluarga Haji Agus Salim adalah salah satu di antaranya. Tak sedikit pula yang beroleh kesuksesan dalam bidang wiraswasta.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Nagari Koto Gadang pada waktu itu menjadi contoh nagari yang ideal: masyarakatnya sehat dan berpendidikan (educated), dengan anak-anak yang cerdas berkat kemajuan pikiran para orang tua dan ninik-mamak mereka, yang menerapkan cara-cara masyarakat Belanda membina kampung halamannya.
Guna memajukan pendidikan anak-kemenakan mereka, pada tahun 1910 masyarakat Koto Gadang mendidikan Vereeniging Studiefonds Kota Gedang. Lewat organisasi ini masyarakat Koto Gadang, baik yang tinggal di kampung maupun yang berada di rantau, berlomba-lomba mengumpulkan dana untuk membiayai studi anak-kemenakan mereka di Jawa dan juga di Belanda.
Guna mempererat tali silaturahmi antara masyarakat Koto Gadang yang tinggal di kampung dan para perantaunya, pada tahun 1915 Vereeniging Studiefonds Kota Gedang menerbitkan bulanan Soeara Kota Gedang (yang di tahun 1929 diganti oleh Berita Koto Gadang).
Koto Gadang di masa lampau adalah contoh ideal bagaimana kekuatan perantau masyarakat Minangkabau dan mereka yang tinggal di kampung bekerjasama bahu-membahu dalam memajukan kampung halaman mereka.

Suryadi, dosen & peneliti pada Opleding Talen en Culturen van Indonesië Universiteit Leiden, Belanda
NAGARI KOTO GADANG YANG FANTASTIS

Oleh Suryadi
Minggu yang lalu perhatian masyarakat Minangkabau, bahkan mungkin nasional, kembali tertuju ke Koto Gadang. Pada 24 & 25 Januari 2009 di nagari yang terletak di tepi Ngarai Sianok dan di barat kota Bukittinggi ini telah dilangsungkan puncak perhelatan Rang Minang Baralek Gadang, yang dihadiri oleh Wakil Presiden H.M. Jusuf Kalla.
Pesta itu sendiri sudah usai bersamaan dengan berakhirnya rangkaian iven yang digelar di beberapa tempat dalam rangka alek gadang itu. Koto Gadang mungkin akan kembali lengang, sebagaimana banyak nagari lainnya di Minangkabau yang ditinggal pergi oleh warganya yang merantau ke berbagai belahan dunia.
Tapi apakah yang dapat kita pelajari dari perjalanan sejarah Koto Gadang, sebuah nagari Minangkabau yang, sejak ditulis oleh K.A. James dalam artikelnya “De Nagari Kota Gedang” dalam Tijdschrift voor het Binnenlandsch Bestuur 49 (1916) hingga kini, seringkali menarik perhatian para peneliti sejarah sosial masyarakat Minangkabau?
Untuk tingkat sebuah kampung, Koto Gadang memang fenomenal. Nagari yang hanya terdiri dari tiga jorong itu (Koto Gadang, Gantiang, dan Subarang Koto Gadang) sudah lebih awal mengecap kemajuan, jauh mendahului ratusan ribu desa-desa lainnya di seantero Republik ini. Dan untuk ukuran sebuah nagari, kemajuan itu boleh dikatakan hampir sempurna dan…..sungguh menakjubkan!
Koto Gadang—nagarinya “the saint Tuanku Malim Kecil”, meminjam istilah Jeffrey Hadler (2008:118)—adalah contoh mikro sebuah masyarakat timur yang lebih awal memperoleh pencerahan (enlightenment) Barat. Akan tetapi, sungguh ajaib, mengapa pencerahan itu mampir di Koto Gadang pada abad ke-19, sebuah desa kecil dalam ‘belantara’ keterbelakangan dunia timur pada zaman itu?
Sampai akhir abad ke-18 Koto Gadang, seperti banyak nagari lainnya di Minangkabau, adalah sebuah kampung yang tak pula bebas dari keterbelakangan yang dibikin sengsara oleh pergolakan agama. Seperti dicatat dalam Naskah Tuanku Imam Bonjol, Koto Gadang ikut menjadi sasaran jihad Kaum Paderi. Mereka pun melakukan purifikasi agama di nagari ini di bawah pimpinan Tuanku nan Kecil.
Tetapi Koto Gadang berubah drastis begitu Belanda keluar sebagai pemenang Perang Paderi. Beberapa tahun sebelum perang itu berakhir, tepatnya di tahun 1833, Belanda mengumumkan Plakat Panjang di Minangkabau. Kota Gedang—begitu sering ditulis dalam dokumen-dokumen klasik di zaman kolonial—yang menjadi pusat administrasi Kelarasan IV Koto dijadikan sebagai salah satu desa percontohan oleh Belanda dalam penanaman komoditas ekspor kopi.
Rupanya masyarakat Koto Gadang merebut kesempatan reformasi pertanian yang diluncurkan Belanda itu dengan sebaik-baiknya.
Dengan memakaikan mamangan adat “bialah panguih baluluak asa tanduak lai makan”, para pemimpin Koto Gadang beserta masyaraktnya bekerjasama dengan Belanda. Mereka berusaha menyerap ilmu apapun yang ada di kepala bangsa penjajah itu.
Sambil menanam produk unggulan kopi, masyarakat Koto Gadang mempelajari sistem pertanian ‘modern’ yang diajarkan Belanda. Hasilnya: mereka meraup keuntungan ekonomi darinya.
Dalam dekade 1840-1850-an nagari Koto Gadang memonopoli distribusi kopi, dan banyak dari penduduknya yang berjumlah 2.500 jiwa menjadi kaya dan sejahtera karenanya, seperti disaksikan oleh Ida Pfeiffer, seorang petualang wanita asal Jerman yang mengunjungi nagari itu pada tahun 1852 (Von de Wall [transl.] 1878).
Salah seorang yang terkaya di Koto Gadang pada waktu itu adalah Radjo Mangkuto yang menguasai kartel transportasi kopi. Ia kemudian pergi naik haji dan melanjutkan perjalanannya ke Belanda. Ia mempersembahkan contoh sulaman benang emas terhalus buatan wanita Koto Gadang kepada Raja Belanda Willem III (Hadler 2008:121).
Keluarga Radjo Mangkuto merepresentasikan cara masyarakat Koto Gadang meraih kemajuan dengan menimba ilmu dari sang penjajah (Belanda). Mereka adalah contoh awal dari apa yang disebut oleh Elizabeth E Graves (1981) sebagai kelompok elite Minangkabau modern.
Saudara Radjo Mangkuto yang bernama Abdul Rahman menjadi hoofdjaksa di Bukittinggi. Saudaranya yang lain, Abdul Latief, menjadi bumiputera pertama yang menjadi kepala sekolah di Normaalschool Bukittinggi ketika sekolah itu dibuka tahun 1856. Jejaknya di kemudian hari dilanjutkan oleh putra Koto Gadang yang lain, Moehammad Taib.
Sukses keluarga Radjo Mangkuto disuritauladani oleh banyak keluarga lain di Koto Gadang. Hasilnya: di tahun-tahun berikutnya sampai paruh pertama abad ke-20 masyarakat Koto Gadang memetik buah englihtenment Barat (lihat rekaman historisnya dalam: Syaifoeddin St. Malintang, Koto Gadang dari Zaman ke Zaman, 1985; Azizah Etek, Mursjid A.M., Arfan B.R., Koto Gadang Masa Kolonial, 2007).
Ada dua kunci penting dari pencerahan itu yang benar-benar dipraktekkan oleh anak nagari Koto Gadang dalam kehidupan bermasyarakat. Kedua kunci itu adalah pendidikan sekuler dan tradisi berorganisasi.
Masyarakat Koto Gadang tidak pelit membelanjakan uang untuk kemajuan pendidikan anak-kemenakan mereka. Dan para cerdik pandainya tidak hitung-hitungan tenaga dalam membina organisasi demi kemajuan anak negeri. Alhasil, banyak putra Koto Gadang berhasil mencapai pendidikan tinggi di Jawa dan juga di Belanda. Ini tiada lain karena buah dari pencerahan yang lebih awal yang telah diterima oleh orang tua dan ninik-mamak mereka.
Ketika para orang tua dan ninik-mamak di nagari-nagari lain masih takut memasukkan anak-anak mereka ke sekolah sekuler bikinan Belanda dan menganggap kepandaian menulis aksara Latin akan diganjal dengan hukum potong tangan oleh Tuhan di akhirat nanti, para orang tua dan ninik-mamak di Koto Gadang sudah berlomba-lomba menyekolahkan anak-kemenakan mereka ke sekolah-sekolah Belanda.
Pada awal abad ke-20 masyarakat Koto Gadang boleh dikatakan sudah hidup ‘modern’ dan bersih. Mungkin nagari inilah yang pertama kali membuat fasilitas PAM (Perusahaan Air Minum) atau waterleiding untuk keperluan masyarakatnya sendiri (didirikan tahun 1924).
Ninik-mamak Koto Gadang yang 24 membina nagarinya dengan pandua pencerahan Barat. Masyarakat Koto Gadang membuat organisasi-organisasi profesi, tak ketinggalan juga kaum wanitanya dengan Meisjes Vereeniging Koto Gadang mereka.
Suryadi (Penulis) dan JepePendidikan, penyediaan lapangan kerja di bidang pertanian dan industri rumah tangga (khususnya tenunan dan industri kerajinan perak), dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas para perantau dengan ninik-mamak yang 24.
Ratusan putra-putri Koto Gadang yang terdidik dan pintar berbahasa Belanda—doktor, dokter, insinyur, ahli hukum dll.—menyebar dari Sabang sampai Merauke. Mereka menduduki berbagai jabatan penting dalam administrasi kolonial Belanda. Di senjakala kolonialsme beberapa di antaranya muncul sebagai pemimpin nasional yang kemudian berlanjut ke zaman kemerdekaan. Keluarga Haji Agus Salim adalah salah satu di antaranya. Tak sedikit pula yang beroleh kesuksesan dalam bidang wiraswasta.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Nagari Koto Gadang pada waktu itu menjadi contoh nagari yang ideal: masyarakatnya sehat dan berpendidikan (educated), dengan anak-anak yang cerdas berkat kemajuan pikiran para orang tua dan ninik-mamak mereka, yang menerapkan cara-cara masyarakat Belanda membina kampung halamannya.
Guna memajukan pendidikan anak-kemenakan mereka, pada tahun 1910 masyarakat Koto Gadang mendidikan Vereeniging Studiefonds Kota Gedang. Lewat organisasi ini masyarakat Koto Gadang, baik yang tinggal di kampung maupun yang berada di rantau, berlomba-lomba mengumpulkan dana untuk membiayai studi anak-kemenakan mereka di Jawa dan juga di Belanda.
Guna mempererat tali silaturahmi antara masyarakat Koto Gadang yang tinggal di kampung dan para perantaunya, pada tahun 1915 Vereeniging Studiefonds Kota Gedang menerbitkan bulanan Soeara Kota Gedang (yang di tahun 1929 diganti oleh Berita Koto Gadang).
Koto Gadang di masa lampau adalah contoh ideal bagaimana kekuatan perantau masyarakat Minangkabau dan mereka yang tinggal di kampung bekerjasama bahu-membahu dalam memajukan kampung halaman mereka.

Suryadi, dosen & peneliti pada Opleding Talen en Culturen van Indonesië Universiteit Leiden, Belanda
Rabu, 21 Januari 2009
Seni Tradisi yang orisinil mebangkitkan Sumbar ke pentas nasional
Kab. Agam | Selasa, 20/01/2009 09:24 WIB
Seni Tradisi Bangkitkan Sumbar di Pentas Nasional
Iven Rang Minang Baralek Gadang yang telah diadakan secara estafet di sejumlah daerah sejak 16 Desember 2008, direncanakan akan mencapai puncaknya pada 24 Januari di Nagari Koto Gadang Kecamatan IV Koto Agam. Di samping sukses acara, kegiatan tersebut juga berhasil mengangkat kembali nilai-nilai tradisi masyarakat Minangkabau, yang diusung setiap daerah yang menjadi rangkaian kegiatan Rang Minang Baralek Gadang ini.

Di Bukittinggi, Rang Minang Baralek Gadang diisi dengan Festival Silat Tradisi, Lomba Baju Kuruang, Lomba Lagu Bundo Kanduang dan Lomba Panitahan. Item kegiatan yang didengungkan mulai 23 hingga 25 Desember ini mendapat respon yang cukup reaktif dari masyarakat, terbukti salah satunya dengan penampilan 15 perguruan Pencak Silat dari sejumlah daerah di Sumatera Barat serta 7 Pengcab Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
“Ini sebuah kegiatan yang mendapat respons luar biasa oleh tuo-tuo silek Minangkabau, karena belum tentu setiap kegiatan dapat mempertemukan tokoh tadi,” ungkap Herman Sofyan, selaku koordinator bidang Silat Tradisi dalam rangkaian Rang Minang Baralek Gadang di Bukittinggi.
Bahkan pelataran Sighi Foto Studio yang menjadi pusat kegiatan festival ini dibanjiri penonton sejak sore hingga malam, sepanjang jadwal yang telah ditetapkan panitia. Acara itu sendiri dibuka Ketua Umum Rang Minang Baralek Gadang, H Leonardy Harmainy, yang berkeyakinan seluruh rangkaian kegiatan tadi akan bermuara kepada kebangkitan kembali Sumbar di pentas nasional, melalui kekayaan seni tradisi dengan mengambil momentum 100 tahun kebangkitan nasional.

Penajaman dari terilhaminya Rang Minang Baralek Gadang juga terinspirasi semangat mengajak generasi muda untuk kembali mengetahui dan mencintai kekayaan tradisi Minangkabau, agar tidak terpengaruh oleh perkembangan global dewasa ini. Mencintai budaya dan seni tradisi, terang Leonardy, bukan sebuah kemunduran pola hidup, tapi bagaimana menjaga agar warna kehidupan berjalan dalam tatanan adat, budaya serta norma yang berlaku di tengah masyarakat.
“Melihat kemajuan sebuah masyarakat salah satunya dapat diketahui dari bagaimana mereka hidup dalam tatanan norma lokal mereka. Bahkan masyarakat dunia saat ini lebih cenderung datang atau melihat sebuah daerah tentang bagaimana masyarakat lokal hidup dengan norma lokal mereka, salah satunya kekayaan seni budaya yang selama ini tidak mereka temukan ditempatnya,” terang Leonardy ketika membuka Festival Silat Tradisi dalam rangkaian Rang Minang Baralek Gadang di Bukittinggi.
Menyikapi semangat 100 tahun Kebangkitan Nasional, tambah Leonardy, rasanya tidak terlalu berlebihan jika momentum tersebut dijadikan sebuah loncatan untuk mengangkat kembali nilai tradisional Minangkabau, baik untuk tingkat lokal atau nasional. Sebab dengan kekuatan nilai-nilai tradisional itulah akan terlihat kekuatan Sumatera Barat, yang kokoh memegang dan menjalankan aturan norma mereka yang selama ini dihargai, dihormati dan menjadi sebuah kekuatan budaya nasional.
“Pencak silat merupakan salah satu seni tradisi Sumbar, yang diyakini sampai saat ini belum ada duanya di Indonesia atau dunia. Bahkan kesenian tersebut dipelajari oleh orang dari berbagai belahan dunia, sehingga jika tidak terus dipertahankan serta dilestarikan maka akan hilang begitu saja dikemudian hari. Apalagi tidak tertutup kemungkinan nantinya akan datang kelompok atau bangsa tertentu yang meng-klaim kesenian tadi sebagai milik mereka,” ungkapnya.
Untuk itu, berbagai ivent yang diangkat pada Rang Minang Baralek Gadang selain berdampak kepada melestraikan budaya kepada generasi muda, juga sebuah wujud eksistensi diri orang Minangkabau tentang berbagai simbol yang ada pada dirinya terhadap dunia luar. Pada iven tersebut juga digelar Kongres I Rang Minang, Musyawarah Duduak Barapak, launching Padang TV dan Padang Today (Grup Padang Ekspres), Nagari Cyber, Manggulai 1001 Itiak Hijau, Cerdas Cermat tingkat SMA, pameran dan promosi produk nagari serta bursa tenaga kerja.
Juga direncanakan peresmian rumah pahlawan H Agus Salim di Koto Gadang menjadi museum, dan rumah Rohana Kudus sebagai museum pers nasional. (*)
(Eka Ridhaldi Alka - Padang Ekspres)
http://www.padang-today.com/?today=news&id=3236
Seni Tradisi Bangkitkan Sumbar di Pentas Nasional
Iven Rang Minang Baralek Gadang yang telah diadakan secara estafet di sejumlah daerah sejak 16 Desember 2008, direncanakan akan mencapai puncaknya pada 24 Januari di Nagari Koto Gadang Kecamatan IV Koto Agam. Di samping sukses acara, kegiatan tersebut juga berhasil mengangkat kembali nilai-nilai tradisi masyarakat Minangkabau, yang diusung setiap daerah yang menjadi rangkaian kegiatan Rang Minang Baralek Gadang ini.

Di Bukittinggi, Rang Minang Baralek Gadang diisi dengan Festival Silat Tradisi, Lomba Baju Kuruang, Lomba Lagu Bundo Kanduang dan Lomba Panitahan. Item kegiatan yang didengungkan mulai 23 hingga 25 Desember ini mendapat respon yang cukup reaktif dari masyarakat, terbukti salah satunya dengan penampilan 15 perguruan Pencak Silat dari sejumlah daerah di Sumatera Barat serta 7 Pengcab Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
“Ini sebuah kegiatan yang mendapat respons luar biasa oleh tuo-tuo silek Minangkabau, karena belum tentu setiap kegiatan dapat mempertemukan tokoh tadi,” ungkap Herman Sofyan, selaku koordinator bidang Silat Tradisi dalam rangkaian Rang Minang Baralek Gadang di Bukittinggi.
Bahkan pelataran Sighi Foto Studio yang menjadi pusat kegiatan festival ini dibanjiri penonton sejak sore hingga malam, sepanjang jadwal yang telah ditetapkan panitia. Acara itu sendiri dibuka Ketua Umum Rang Minang Baralek Gadang, H Leonardy Harmainy, yang berkeyakinan seluruh rangkaian kegiatan tadi akan bermuara kepada kebangkitan kembali Sumbar di pentas nasional, melalui kekayaan seni tradisi dengan mengambil momentum 100 tahun kebangkitan nasional.

Penajaman dari terilhaminya Rang Minang Baralek Gadang juga terinspirasi semangat mengajak generasi muda untuk kembali mengetahui dan mencintai kekayaan tradisi Minangkabau, agar tidak terpengaruh oleh perkembangan global dewasa ini. Mencintai budaya dan seni tradisi, terang Leonardy, bukan sebuah kemunduran pola hidup, tapi bagaimana menjaga agar warna kehidupan berjalan dalam tatanan adat, budaya serta norma yang berlaku di tengah masyarakat.
“Melihat kemajuan sebuah masyarakat salah satunya dapat diketahui dari bagaimana mereka hidup dalam tatanan norma lokal mereka. Bahkan masyarakat dunia saat ini lebih cenderung datang atau melihat sebuah daerah tentang bagaimana masyarakat lokal hidup dengan norma lokal mereka, salah satunya kekayaan seni budaya yang selama ini tidak mereka temukan ditempatnya,” terang Leonardy ketika membuka Festival Silat Tradisi dalam rangkaian Rang Minang Baralek Gadang di Bukittinggi.
Menyikapi semangat 100 tahun Kebangkitan Nasional, tambah Leonardy, rasanya tidak terlalu berlebihan jika momentum tersebut dijadikan sebuah loncatan untuk mengangkat kembali nilai tradisional Minangkabau, baik untuk tingkat lokal atau nasional. Sebab dengan kekuatan nilai-nilai tradisional itulah akan terlihat kekuatan Sumatera Barat, yang kokoh memegang dan menjalankan aturan norma mereka yang selama ini dihargai, dihormati dan menjadi sebuah kekuatan budaya nasional.
“Pencak silat merupakan salah satu seni tradisi Sumbar, yang diyakini sampai saat ini belum ada duanya di Indonesia atau dunia. Bahkan kesenian tersebut dipelajari oleh orang dari berbagai belahan dunia, sehingga jika tidak terus dipertahankan serta dilestarikan maka akan hilang begitu saja dikemudian hari. Apalagi tidak tertutup kemungkinan nantinya akan datang kelompok atau bangsa tertentu yang meng-klaim kesenian tadi sebagai milik mereka,” ungkapnya.
Untuk itu, berbagai ivent yang diangkat pada Rang Minang Baralek Gadang selain berdampak kepada melestraikan budaya kepada generasi muda, juga sebuah wujud eksistensi diri orang Minangkabau tentang berbagai simbol yang ada pada dirinya terhadap dunia luar. Pada iven tersebut juga digelar Kongres I Rang Minang, Musyawarah Duduak Barapak, launching Padang TV dan Padang Today (Grup Padang Ekspres), Nagari Cyber, Manggulai 1001 Itiak Hijau, Cerdas Cermat tingkat SMA, pameran dan promosi produk nagari serta bursa tenaga kerja.
Juga direncanakan peresmian rumah pahlawan H Agus Salim di Koto Gadang menjadi museum, dan rumah Rohana Kudus sebagai museum pers nasional. (*)
(Eka Ridhaldi Alka - Padang Ekspres)
http://www.padang-today.com/?today=news&id=3236
Label:
Buya Masoed Abidin,
Minangkabau,
Sumbar,
Surau Buya
Langganan:
Komentar (Atom)